Well, pertama-tama aku mau bilang maaf karena mungkin ini tulisan yang sama sekali ga berguna. Bukan tips sih ya mungkin seharusnya, melainkan curhatan pribadi aja, gimana aku sebagai seorang mahasiswa pascasarjana. Aku mau berbagi aja ke temen-temen yang mungkin agak mirip denganku, baru lulus S1 dan langsung melanjutkan pendidikan S2, khususnya usia kisaran 21 s.d. 24 tahun. Selamat menikmati....
1. About style, tampillah seperti apa yang kamu mau. Ga usah bepikir kalau magister itu tampilannya harus rapi kaya Bapak/Ibu guru, gausah.... Mungkin waktu S1 (khususnya di UPI) ada beberapa dosen yang menghimbau mahasiswanya untuk superrapi bak Bapak/Ibu guru kalau bisa. Tapi usia-usia baru lulus sarjana itu kamu udah dianggap dewasa loh, bebas menentukan pilihan sendiri, dan bisa bertanggung jawab atas diri sendiri. Yang paling penting adalah tetap harus sopan dan menutup aurat. Dan kalau bisa, kamu harus bisa bikin orang lain nyangka kalo kamu masih anak SMA atau mahasiswa S1 :D
2. Tentang perkuliahan di kelas, ini adalah kesempatan yang besar buat kamu menyampaikan pemikiran-pemikiran berhargamu. Kegiatan inti di kelas sebenernya cuma dua: presentasi dan diskusi. Di awal perkuliahan biasanya dosen yang ngasih presentasi, tapi selanjutnya adalah mahasiswa itu sendiri. Dan keluarkan kemampuan maksimalmu selama perkuliahan di kelas ini. Prepare materi presentasi dengan sebaik-baiknya dan berusaha untuk menguasai materi, berlatih untuk presentasi, serta tampil dengan maksimal dan percaya diri. Dan ketika orang lain yang presentasi (baik dosen ataupun teman), berusaha aktif selama kegiatan diskusi baik bertanya maupun menanggapi.
3. Tentang tugas. Berusahalah untuk mencicil tugas, tidak menggunakan sistem kebut semalam (seperti aku). Kenapa? Karena sebagian penilaian kita berasal dari tugas ini. Dan untuk menciptakan sebuah tugas yang maksimal, butuh referensi yang mumpuni dan analisis yang tajam, dan ini memang tidak cukup hanya semalam. Memang sih dari pengalaman aku, fine fine saja saya mengerjakan dalam waktu semalam. Tapi, ada beberapa hal yang harus dikorbankan, diantaranya: jam tidur yang dikorbankan dan hibernasi pascapengumpulan tugas merupakan hal yang tidak bisa dihindari, berebut di tempat print dengan orang lain dan terkadang menyalahkan pemilik fotokopian yang lama menjilid lah atau apalah, serta sprint ke tempat pengumpulan tugas (ruang dosen) demi mengejar batas maksimal pengumpulan tugas yang berakhir pada ngos-ngosan panjang dan keringat yang bercucuran deras.
4. Tentang pekerjaan. Buat kamu yang udah punya pekerjaan tetap, mungkin sekolah adalah urusan kedua setelah bekerja. Namun bagi kamu yang belum, well pikir-pikirlah dulu. Menurut aku sih ya, pekerjaan yang paling pas untuk mahasiswa yang tengah pendidikan S2 adalah dosen/asisten dosen. Kamu bisa melamar sebagai dosen di universitas swasta (dan tidak terkenal) yang paham kesibukan kamu sebagai mahasiswa, jadi jadwal mengajar kamu akan disesuaikan tidak bentrok dengan kuliah kamu. Kamu juga bisa mencoba menjadi asisten dosen di universitas negeri (dan favorit) dimana pastinya kamu hanya mengajar beberapa jam dalam beberapa hari, benar-benar tidak melelahkan dan tidak mengganggu jadwal perkuliahanmu, malah akan sangat mendukung kuliahmu dari segi pengayaan materi kuliah.
5. Tentang aktivitas lainnya. Untuk menunjang perkuliahan dan pengembangan kompetensimu sebagai seorang calon ilmuwan, cobalah untuk mengisi waktu luang untuk banyak membaca dan menulis. Dua keterampilan bahasa tersebut sangat diperlukan oleh mahasiswa. Membaca buku bisa tentang pendidikan yang sedang kamu tempuh, dan lebih bagus lagi kalau selain itu, karena seorang magister memang dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas dan dalam. Kalau keseringan membaca, biasanya kita juga akan gatal untuk menulis. Cobalah untuk menulis, mengirimkan artikel ke jurnal ilmiah ataupun tulisan populer. Atau seperti aku bikin tulisan ga jelas kaya gini :D
6. Tentang pertanyaan kapan nikah? Nah ini jenis pertanyaan yang tidak bisa dihindari apalagi di usia-usia baru lulus S1 dan baru masuk S2. Tenang aja, ga usah sakit sati kalau banyak yang nanya kaya ginian. Kita udah lagi S2 toh, lagi belajar, jadikan aja itu alasan kenapa kita belum nikah. Dan kuliah S2 ini bisa bikin muka kita terlihat lebih muda, jadi bilang aja kita masih terlalu muda untuk menikah. So, buat orang-orang yang suka nanya pertanyaan ini, daripada nanya, mending cariin upaya solutif biar orang yang ditanya cepet nikah, ya gak? :D :D :D
Udah ah sekian dulu ya, jadi baper hehehe.... Makasih udah nyimak, wassalam....
Rabu, 21 Juni 2017
Salahkah Aku?
Salahkah jika suatu saat aku merasa sedih?
Dan rasa sedih ini sulit untuk disembunyikan
hingga berat bagiku menarik bibir ke samping
dan semua tahu bahwa senyumku palsu
Salahkah jika suatu saat aku merasa sedih?
Dan rasa sedih ini sulit untuk ditutupi
hingga berat bagiku untuk tertawa ceria
dan semua tahu bahwa tawaku janggal
Salahkah jika suatu saat aku merasa sedih?
Dan rasa sedih ini sulit untuk dibendung lagi
hingga genangan air mata tak dapat tertahan
dan semua tahu bahwa aku menangis
Salahkah?
Jika pada saat itu aku ingin segera pergi
dari kerumunan dari keramaian....
Dan berlari menuju kesendirian....
Kututup pintu rapat, terkunci...
dalam kamar gelap sepi
Dan biarkan perasaan meluap sebesar-besarnya....
Dan biarkan tangisan pecah sejadi-jadinya.....
hingga parau suara ini
hingga kering air mata ini....
Hingga puas!
Hingga selesai!
Hingga aku kuat kembali....
Dan aku bangkit kembali....
Karena tak akan ada yang tahu....
Karena tak akan ada yang paham perasaan ini....
Untukmu yang tak pernah mengerti.
Bandung Utara, 22 Juni 2017
Dan rasa sedih ini sulit untuk disembunyikan
hingga berat bagiku menarik bibir ke samping
dan semua tahu bahwa senyumku palsu
Salahkah jika suatu saat aku merasa sedih?
Dan rasa sedih ini sulit untuk ditutupi
hingga berat bagiku untuk tertawa ceria
dan semua tahu bahwa tawaku janggal
Salahkah jika suatu saat aku merasa sedih?
Dan rasa sedih ini sulit untuk dibendung lagi
hingga genangan air mata tak dapat tertahan
dan semua tahu bahwa aku menangis
Salahkah?
Jika pada saat itu aku ingin segera pergi
dari kerumunan dari keramaian....
Dan berlari menuju kesendirian....
Kututup pintu rapat, terkunci...
dalam kamar gelap sepi
Dan biarkan perasaan meluap sebesar-besarnya....
Dan biarkan tangisan pecah sejadi-jadinya.....
hingga parau suara ini
hingga kering air mata ini....
Hingga puas!
Hingga selesai!
Hingga aku kuat kembali....
Dan aku bangkit kembali....
Karena tak akan ada yang tahu....
Karena tak akan ada yang paham perasaan ini....
Untukmu yang tak pernah mengerti.
Bandung Utara, 22 Juni 2017
Jumat, 09 Juni 2017
Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah
kreatif sering dijumpai. Kreatif berhubungan dengan menciptakan sesuatu yang
unik dan berbeda (out of the box). Menurut Suryana (2013), kreativitas
adalah kemampuan kecakapan, talenta, dan sikap untuk menciptakan sesuatu yang
baru. Lebih lanjut, Suryana (2013) menyebutkan beberapa unsur kreativitas yaitu
orisinalitas, berimajinasi, inspirasi, kecerdikan, dan penemuan. Sementara
menurut Ervync (Fardah, 2002), kreativitas memainkan peranan penting dalam
siklus penuh dalam berpikir kreatif. Kreativitas dalam hal ini bukanlah
mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, akan tetapi kreativitas adalah
kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru dengan cara membuat kombinasi,
membuat perubahan, atau mengaplikasikan ide-ide yang ada pada wilayah yang
berbeda. Menurut Krulik dan Rudnik (1995), berpikir kreatif melibatkan sintesis
ide-ide, membangun ide-ide baru, dan menentukan efektivitasnya. Sementara itu,
Coleman dan Hammen (Sukmadinata, 2004) menyatakan bahwa berpikir kreatif adalah
suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian (originality) dan ketajaman pemahaman (insight) dalam mengembangkan sesuatu (generating). Berpikir
kreatif sangat penting untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan
sehari-hari, sebagaimana Koutsoupidou & Hargreaves (2009) menyatakan
pentingnya berpikir kreatif baik dalam psikologi, sosial, dan pendidikan.
Berpikir kreatif dapat berkontribusi terhadap perkembangan kemampuan
pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
Di dalam pembelajaran matematika pun,
terdapat salah satu kemampuan matematis yang perlu dimiliki peserta didik yaitu
kemampuan berpikir kreatif matematis. Kemampuan ini berhubungan dengan
bagaimana peserta didik berpikir fleksibel sehingga dapat menciptakan sesuatu
yang unik atau berbeda. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Proudfoot et al. (2015) yang menyatakan bahwa pemahaman
umum mengenai proses berpikir kreatif berkaitan dengan konsep “berpikir
divergen” – sebuah metode dimana solusi kreatif dicapai melalui pertimbangan
dari perspektif yang menyimpang dari norma/kebiasaan. Berpikir divergen artinya
peserta didik dapat berpikir banyak hal sehingga muncul ide-ide yang unik atau
di luar kebiasaan. Pendapat
tersebut juga sesuai dengan yang dikemukakan Pehkonen (Siswono, 2011) yang
menyatakan bahwa berpikir kreatif diartikan sebagai suatu kombinasi dari
berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tetapi masih
dalam kesadaran. Berpikir divergen fokus pada fleksibilitas, kelancaran, dan
kebaruan (Krutetskii, Haylock, dan Silver dalam Siswono, 2011). Kemampuan berpikir kreatif matematis merupakan
salah satu kemampuan high order thinking yang
hampir mirip dengan kemampuan berpikir kritis. Apabila kemampuan berpikir
kritis siswa menekankan pada berpikir mengerucut (konvergen), rasional,
pengujian kebenaran, relevansi, serta adanya pembatasan, maka kemampuan
berpikir kreatif lebih menekankan kepada berpikir divergen, pencarian alternatif/kemungkinan
jawaban yang sebanyak-banyaknya, kebebasan, serta fleksibel. Munandar (Herdian,
2010) mengatakan ciri-ciri kemampuan kreativitas yang berhubungan dengan
kognisi dapat dilihat dari keterampilan berfikir lancar, keterampilan berfikir
luwes, keterampilan berfikir orisinil, dan keterampilan menilai.
Keterampilan berpikir lancar memiliki
ciri-ciri: (1) mencetuskan banyak gagasan dalam menyelesaikan masalah; (2)
memberikan banyak cara atau saran untul melakukan berbagai hal; (3) bekerja
lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada yang lain. Kemampuan berfikir
luwes mempunyai ciri-ciri: (1) menghasilkan gagasan penyelesaian masalah atau
jawaban suatu pertanyaan yang bervariasi; (2) dapat melihat suatu masalah dari
sudut pandang yang berbeda-beda; (3) menyajikan suatu konsep dengan cara yang
berbeda.
Kreativitas
dalam matematika lebih pada
kemampuan berpikir kreatif.
Karena secara umum sebagian
besar aktivitas yang dilakukan seseorang
yang belajar matematika adalah berpikir.
Beberapa ahli mengatakan bahwa berpikir
kreatif dalam matematika merupakan kombinasi
berpikir logis dan berpikir
divergen yang didasarkan
intuisi tetapi dalam kesadaran
yang memperhatikan
fleksibilitas, kefasihan dan
kebaruan. Terdapat 5 macam ciri kreatif untuk mengukur kemampuan
berpikir kreatif yakni aspek (1)
Kelancaran (fluency) yaitu kemampuan
peserta didik dalam memproduksi banyak ide/gagasan untuk menyelesaikan suatu
masalah,
(2) Keluwesan (flexibility) yaitu kemampuan peserta didik untuk memberikan banyak
jawaban untuk menyelesaikan suatu masalah, (3) Keterperincian (elaboration) yaitu kemampuan peserta didik untuk menambah situasi
dalam masalah dan merincinya untuk menyelesaikan suatu masalah,
(4) Kepekaan (sensitivity) yaitu kemampuan peserta didik untuk
mengetahui/mengidentifikasi sebuah pernyataan apakah masalah atau bukan masalah, (5)
Keaslian (originality) yaitu kemampuan peserta didik untuk memberikan
ide/gagasan yang asli dan berbeda dari yang biasa dilakukan oleh kebanyakan
orang.
Menurut Lestari dan Yudhanegara (2015),
kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menghasilkan ide atau gagasan
yang baru dalam menghasilkan suatu cara dalam menyelesaikan masalah, bahkan
menghasilkan cara yang baru sebagai solusi alternatif. Terdapat lima komponen
kemampuan berfikir kreatif menurut Torrance (Budiman, 2011), yaitu:
a.
Kepekaan
(problem sensitivity) adalah kemampuan mendeteksi, mengenali, dan
memahami serta menanggapi suatu pernyataan, situasi, atau masalah;
b.
Kelancaran
(fluency) adalah kemampuan memproduksi banyak gagasan yang
mengarah pada penyelesaian suatu masalah.
c.
Keluwesan
(flexibility) adalah kemampuan menyelesaikan masalah dan
memberikan banyak jawaban terhadap suatu masalah.
d.
Keaslian
(originality) adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan
cara-cara yang asli, tidak klise, dan jarang diberikan kebanyakan orang;
e.
Elaborasi
(elaboration), adalah kemampuan menambah suatu situasi atau masalah
sehingga menjadi lengkap dan merincinya
secara detail yang didalamnya terdapat berupa tabel, grafik, gambar, model dan
kata-kata.
Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kreatif dalam penelitian
ini adalah kemampuan untuk dapat memahami serta menanggapi suatu masalah, memproduksi
banyak gagasan yang mengarah pada penyelesaian suatu masalah, menyelesaikan masalah
dan memberikan banyak jawaban terhadap suatu masalah, serta mencetuskan gagasan dengan cara-cara
yang asli dan jarang diberikan kebanyakan orang.
Berdasarkan pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan
bahwa salah satu cara dalam pembelajaran yang dapat mengasah kemampuan berpikir
kreatif siswa yaitu dengan model open-ended.
Contohnya guru memberikan soal “Tuliskan sebanyak-banyaknya pasangan bilangan
yang memiliki KPK 64!” dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan
sebanyak-banyaknya kemungkinan jawaban, kemampuan berpikir lancar dan luwes
siswa akan terasah.
Pada contoh pembelajaran lain, terdapat soal yang
dapat sekaligus memfasilitasi peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif
siswa. Misalnya guru menuliskan sebuah bilangan di balik kertas yang harus
dijawab oleh siswa dengan cara mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya,
seperti “apakah bilangan tersebut merupakan kelipatan 3?” atau “apakah bilangan
terebut merupakan bilangan kuadrat?” Pada saat mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan tersebut, kemampuan berpikir kreatif siswa terasah dengan
terus mengajukan gagasan-gagasan sebanyak-banyaknya.Sedangkan ketika guru telah
memberikan clue-clue yang didapat
dari pertanyaan-pertanyaan siswa, pikiran siswa menjadi mengerucut (konvergen)
dan mulai menebak bilangan yang dimaksud guru, pada saat itulah kemampuan
berpikir kritis siswa terasah.
Daftar Pustaka:
Budiman, H. (2011). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Matematis Siswa Melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Software Cabri 3D. Artikel Ilmiah. [Online]. Tersedia di: http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdfprosiding2/fmipa201141.pdf (10 Desember 2015).
Fardah, D.K. (2002). Analisis Proses dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Matematika melalui Tugas Open-Ended. Jurnal Kreano, Vol. 3, No. 2.
Herdian. (2010). Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa.[Online].
Tersedia di: https://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/kemampuan-berfikir-kreatif-siswa/ diakses pada tanggal 19 November
2015.
Koutsoupidou, T. & Hargreaves,
D.J. 2009. An Experimental Study of The Effects of Improvisation on The
Development of Children’s Creative Thinking in Music. Psyochology of Music.
Jurnal. Society for Education, Music, and Psychological Research, Vol. 37 (3),
p. 251-278. (hal. 11)
Lestari, K.E. &
Yudhanegara, M.R. (2015). Penelitian Pendidikan
Matematika: Panduan Praktis Menyusun Skripsi, Tesis, dan Karya Ilmiah dengan
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi Disertai dengan Model
Pembelajaran dan Kemampuan Matematis. Bandung: Refika Aditama.
Proudfoot, D. et al. (2015). A Gender Bias in The Attribution of Creativity: Archival and Experimental Evidence for The Perceived Association between Masculinity and Creative Thinking. Jurnal. Psychological Science 2015, Vol. 26 (1) 1751-1761. Tersedia di: sagepub.com.
Siswono. (2011). Level of Students's Creative Thinking in Classroom Mathematics. Educational Research and Review. 6 (7). 548-553.
Sukmadinata, N.S. (2004). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suryana. (2013). Ekonomi Kreatif, Ekonomi Baru: Mengubah Ide dan Menciptakan Peluang. Jakarta: Salemba Empat.
Diklat Prajabatan Pola Baru
Haiii
Guyysss....
Kali
ini aku mau berbagi pengalaman tentang Prajabatan, hehehe. Siapa tau ada
Akang/Teteh yang kebetulan akan atau sedang dalam proses Prajabatan kita bisa sharing hehe. Well, apa sih prajabatan
itu? Prajabatan adalah sebuah proses pendidikan dan pelatihan yang wajib
diikuti semua Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebagai syarat untuk diangkat
menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Landasan yuridisnya yaitu Peraturan
Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan
Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menetapkan bahwa diklat untuk pembentukan Calon
Pegawai Negeri Sipil (CPNS) adalah Diklat Prajabatan. Mungkin Akang/Teteh sudah tahu prajabatan dari
keluarga atau kerabat yang berprofesi sebagai PNS. Dan salah satu ciri khas
orang-orang yang sedang mengikuti Prajabatan adalah pakaiannya hitam putih
hihihiii.. Untuk dasi, beberapa instansi berbeda-beda, namun pada saat aku
mengikuti Prajabatan, siswa laki-laki harus memakai dasi biasa sedangkan siswa
perempuannya memakai dasi kupu-kupu coba, ga kaya waitresses gimanaa -____-
Aku
mengikuti Prajabatan sekitar bulan Oktober 2015 di Gedung Badan Pendidikan dan
Pelatihan Daerah (Badiklatda) Provinsi Jawa Barat yang beralamat di Jalan Windu
Kota Bandung. Angkatan kami termasuk angkatan yang menjalani Diklat Prajabatan
Pola Baru. Well, kaya gimana sih Diklat Prajabatan Pola Baru ituu? Jadi, Diklat
Prajabatan Pola Baru adalah Diklat yang memuat nilai-nilai ANEKA sebagai materi
utamanya. ANEKA itu singkatan dari Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi. Penyelenggaraan Diklat Prajabatan
tersebut mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang
Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil dan Peraturan Kepala
Lembaga Administrasi Negara Nomor 15 Tahun 2015 Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III
yang diangkat dari Pelamar Umum. Penyelenggaraan Diklat Prajabatan bertujuan
untuk membentuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang profesional, yaitu Pegawai
Negeri Sipil (PNS) yang karakternya dibentuk oleh nilai-nilai Dasar Pegawai
Negeri Sipil (PNS), sehingga mampu melaksanakan tugas dan perannya secara
profesional sebagai pelayan publik. Hal
tersebut juga mengacu berdasarkan permasalahan saat ini dimana SDM aparatur yang
sepatutnya menjadi contoh panutan bagi masyarakat malah terkadang dicap negatif,
seperti yang korupsi lah, yang mangkir lah, pungli lah, kurang profesional lah,
de el el.
Diklat
juga dilaksanakan dalam dua sesi, on
class dan off class. Dalam on class,
kita diasramakan gitu lah disana, seru banget pokoknya. Kehidupan kita
sehari-hari itu, jadi pukul 03.00 kita uda pada bangun dan antri mandi, pukul
04.00 kita harus udah siap ke mesjid untuk salat Shubuh berjamaah, abis Subuh
kita tadarusan dan mendengarkan tausyiah. Yang jadi MC dan penceramahnya dari
kita-kita juga loh, bergilir ada jadwalnya. Jadi seru kaan bisa belajar jadi MC
dan penceramah. After that, kita
kembali ke kamar dan pukul 05.30 udah harus ada di lapangan untuk olahraga.
Mungkin beberapa dari kita sebel sama keseharian kaya gini yang nuntut untuk
bangun pagi banget, ga kurang diospek gimana coba.... Tapi ternyata pendidikan
ini bermanfaat banget untuk kita ke depannya. Banyak hikmah yang bisa diambil.
Untuk yang beragama muslim khususnya, kita terlatih untuk bangun dini hari,
melaksanakan ibadah salat malam sampai subuh, dan melaksanakan aktivitas
selanjutnya tanpa tidur lagi. Selain itu, karena ketika memasuki dunia PNS yang
sesungguhnya, paling tidak sebulan dua kali, kita akan melaksanakan dinas luar,
yaitu bertugas ke luar kota untuk menggali informasi, berdiskusi, dan lain
sebagainya. Dinas luas emang nyenengin karena selain bisa jalan-jalan gratis,
silaturahmi, dan dapat ilmu, kita juga dibekali uang saku hehe.... Tapi kita
juga harus rela berkorban bangun dini hari karena untuk mengejar pagi sekitar
pukul 09.00 di tempat bertugas, kita harus berangkat pagi sekali. Terus buat
apa kita olahraga tiap hari? Tentu penting banget! Selain karena penting untuk
kesehatan dan bentuk syukur kita, PNS sebagai panutan masyarakat tentu harus
menjadi pribadi yang sehat dan tangguh. Nih ya, mau jadi tentara sama polisi
aja tes kebugarannya gila-gilaan, apalahi PNS. Menurutku, PNS itu kalau punya
tubuh sehat dan ideal ga cuma bermanfaat untuk diri sendirinya aja tapi juga
pandangan orang lain. Di saat banyak yang memandang PNS itu banyak yang korupsi
makan uang haram de el el, kita tunjukkan kita engga kaya gitu. Memang sih sebagian
PNS buncit karena seringnya mengikuti rapat dan kalau dikasih snack atau
konsumsi ga tanggung-tanggung. Tapi kita sebagai agen of change harus buktikan kita ga rakus dan hidup bersahaja,
hasekkk.. Udah gitu keseharian kita ada apel berkali-kali, ada apel pagi, terus
setiap makan pagi, siang, malam juga kita baris dulu, dan apel malam pukul
21.00. Petugas apel kaya pembina upacara, pemimpin pasukan, MC, pembaca doa,
dirigen, de el el juga bergilir. Iya lah ini penting banget abisnya kan di
kantor kita masing-masing juga apel itu merupakan suatu kewajiban sebagai
bentuk loyalitas kita. Dan of course kita harus belajar jadi petugas apel.
Di
on class ini kegiatan kita kebanyakan
kuliah di kelas dengan para widyaiswara yang baik hati. Humanis banget lah
pembelajaran disana. Kita bisa dapet banyak ilmu yang bermanfaat dan diskusi
banyak hal, apalagi mungkin sebagian dari kita kena cultural shock ketika pertama kali memasuki dunia PNS. Ini juga
mungkin menjadi ajang bagi para widyaiswara untuk membentuk calon PNS yang berkarakter
dan memiliki idealisme yang baik. Abis gitu like
usual, kita dikasih tugas. Dan of
course tugas itu kita kerjakan di kamar masing-masing sehabis apel malam.
Jadi waktu tidur kita saat itu hanya kurang lebih 3 sampai 4 jam lah hehehe,
ini bagus loh karena kan emang kita ga boleh kebanyakan tidur.... Di dalam on class ini kita juga menyusun
rancangan aktualisasi yang akan diseminarkan di akhir on class dan diimplementasikan pada saat off class. Aktualisasi itu jadi kaya kita kembali ke kantor
masing-masing untuk bekerja dan bagaimana caranya menerapkan nilai ANEKA dalam
setiap pekerjaan kita, lalu kita buat laporannya. Keren banget kan, jadi kaya
nyusun skripsi atau tesis gitu... Ada seminar proposal, terus penelitian,
bimbingan, dan sidang hehehe.. Nah di masa menjelang akhir on class juga kita dibagi coach
atau kalau di kuliah ma dosen pembimbing lah yang akan membimbing kita menyusun
laporan aktualisasi. Saat seminar rancangan, like usual kita presentasi di
depan beberapa penguji. Kita juga didampingi mentor atau atasan langsung kita
dari kantor masing-masing. Kita harus dapat meyakinkan penguji bahwa rancangan
aktualisasi kita itu dapat diimplementasikan dan mengandung nilai-nilai ANEKA. Oh
iya, di akhir on class juga kita
mengikuti tes tulis berupa soal-soal materi yang telah kita dapatkan selama di
kelas.
Next, memasuki masa off class, kita sedih banget.... Gimana enggak, kita udah bareng
selama kurang lebih dua pekan terus harus pisah lagi untuk kembali ke kantor
masing-masing. Terutama sama teman sekamar ma sedih banget lah, 24 jam nonstop
atuh sama mereka terus hehehe.... Memang sih masa Prajab belum berakhir, tapi
ketika kita kembali lagi untuk sidang akhir kan udah kita cuma sidang aja engga
akan babarengan lagi.. Well, kita pun kembali ke kantor masing-masing
menjalankan rutinitas seperti biasanya, namun masih menggunakan baju hitam
putih dan nametag sebagai penciri bahwa kita sedang Diklat (dan diharapkan
tidak diberi tugas yang di luar kepentingan Diklat, hehehehe). Selama off class kita sambil nyusun laporan
aktualisasi dan ngumpulin evidence-nya.
Evidence itu kaya buktinya gitu,
macam foto kita lagi rapat misalnya, atau berkas kaya surat disposisi dari
atasan, atau juga notula kita hasil mengikuti rapat. Di masa-masa ini juga kita
kadang ke Asrama Windu lagi untuk bimbingan dengan coach. Di akhir masa off
class, kita kembali lagi ke Windu, menginap semalam, dan besoknya Sidang
Aktualisasi.
Well
begitulah kira-kira gambaran sedikit tentang Diklat Prajabatan yang pernah aku
ikuti. Intinya aku seneng banget dan puas ikut Diklat saat itu! J see you....
Jumat, 20 Januari 2017
A Short Story of Hustiadi: Childhood and Teenager #1
Hustiadi was born in Dadiharja
Village Rancah Ciamis, October 8th 1962. He is the first child of
Husen, a teacher and Kantini, a housewife. Why was he named “Hustiadi”? What is
the meaning of that name? When Kantini was pregnant, there was an incident.
Some missionarists intended to build a church in Subang, a district near
Dadiharja. Husen with his strong religion didn’t agree with that plan. One of
his family was also affected by those missionarists and converted to Christian
because of his poverty and as we know, missionarists usually do the approach to
the poor people. To discomfit the missionarists, Husen went to Bandung and try
to communicate with the pastor in the central church in Bandung. After that
negotiation, the missionarists canceled the plan to build a church in Subang. When
Kantini’s baby was born, Husen wanted the name of the baby can be memorized his
heroic action. So, he named his first child: “HUSTIADI” which means “HUSEN
TIDAK INGKAR AKAN DJALAN ALLAH”. He wished the baby could grow up as a man with
the bravery and his strong religion.
Hustiadi has a younger brother
and a younger sister. Hustiadi spent his childhood in Dadiharja and when he was
teenager, he moved to Kuningan because Husen was reassigned to Kuningan.
Hustiadi showed good performance in the subjects when he was in senior high
school. Unfortunately, he got the intestinal pain when he was in the first year
of senior high school. It made him has to get the intestinal surgery and missed
the lessons for a while. At that time, he was going to die. After the,
intestinal surgery, Hustiadi slept for some days. His father was pessimistic
that he could be recover again. And in the morning, Hustiadi showed a movement
when his father was praying. His father was so affected and said it was like
finding the lost boy. Hustiadi saw it and he never forget his father’s words
until now.
Kamis, 02 Juni 2016
MITOS DAN FAKTA SEPUTAR PENERIMAAN CPNS
Haiiiiii jumpa lagi dengan saya
yang sudah lama tidak berkoar-koar di blog. Maklum, mau curcol teh asa ironi
gituu tesis aja belum ada progress lagi, masak mau nulis yang gepete. Tapi
gapapalah ya, mumpung sekarang kebetulan di kantor sedang agak santai, sepi,
orang-orang pada dinas luar, khususnya mah atasan langsung saya sedang bertugas
di luar hihihii.. Maaf, bukan bermaksud gabut tapi yaa ingin memanfaatkan waktu
aja dengan hal-hal yang saya sukai. Well, udah dari sejak lama saya ingin post
mengenai CPNS. Cuma kan konteks CPNS itu luas ya, saya sebenarnya benar-benar
ingin share dari mulai pengalaman saya sekecil apapun. Cuma kalo kali ini saya
sedang tertarik memposting “MITOS DAN FAKTA PENERIMAAN CPNS”. Gara-garanya
kemarin-kemarin saya sempat dengar akan ada penerimaan CPNS kembali tahun 2016
ini. Banyak teman yang bertanya kepada saya mengenai kebenaran berita tersebut,
namun saya pribadi belum dapat menentukan hal tersebut hoax atau bukan. Saya hanya
menjawab berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya. Saya sendiri seringkali gatal
dengan beberapa anggapan mengenai sistem penerimaan CPNS yang bagi saya itu
sangat kuno dan sekarang sudah tidak berlaku lagi. Baik, berdasarkan kegatalan
saya tersebut, saya pun berusaha sedikit-sedikit mensosialisasikan
kebenaran-kebenaran dan ketidakbenaran-ketidakbenaran seputar penerimaan CPNS
melalui postingan saya ini.
MITOS:
1. Menjadi
seorang CPNS adalah hal yang sangat sulit sehingga bisa menjadi CPNS disebut
sebagai sebuah keajaiban.
2. Info
resmi penerimaan CPNS didapatkan dari mulut ke mulut, kurang terbuka, agar
hanya kerabat-kerabat ‘orang dalam’ saja yang mendapatkan informasi tersebut.
3. Kalau
ingin jadi CPNS harus menjadi pegawai honorer terlebih dahulu selama
bertahun-tahun.
4. Kalau
mau lolos CPNS, harus punya ‘orang dalam’ yang minimal-minimal pejabat Eselon
IV.
5. Kalau
mau lolos CPNS, harus pake uang ratusan juta.
6. Seleksi
administrasi CPNS sangatlah ribet.
7. Hasil
tes CPNS tidak akan berpengaruh apapun karena pada ujung-ujungnya penerimaan
CPNS sangat berbau KKN.
8. Penempatan
CPNS tergantung dari domisili kita.
9. Soal-soal
tes CPNS sangat sangat amat sulit.
Beberapa pernyataan di atas sangat amat tidak benar.
Faktanya....
FAKTA:
1.
Menjadi CPNS merupakan hal yang relatif mudah,
usaha-usaha untuk menggapainya juga sangat konkret, sehingga hal tersebut
merupakan pencapaian yang lumrah dalam kehidupan ini.
2.
Seiring berkembangnya zaman, teknologi khususnya
di bidang informasi pun berkembang pesat. Sehingga informasi mengenai
penerimaan CPNS pun sangat terbuka. Internet menjadi kebutuhan pokok masyarakat
di era modern. Berbagai sistem penerimaan pun hampir disosialisasikan melalui
media ini. Kita harus cerdas dalam memfilter informasi, jangan sampai terjebak
dalam info-info hoax. Informasi mengenai penerimaan CPNS hanya tersedia di
website resmi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(Kemenpan-RB) dan juga Badan Kepegawaian Negara (BKN). Berbagai informasi
lengkap dan jelas tersedia disana. Pendaftaran awal pun dilakukan dengan cara
menginput data kita di website tersebut. Jangan pernah percaya akan omongan
orang-orang yang sekiranya kurang dapat dipercaya, misal: “Kata Bapak A,
pembukaan CPNS udah mulai, daftarnya ke Bapak A juga. Ayo ke rumahnya Bapak A
sambil bawain kue.” Nah, hal-hal kaya gitu ga bener banget. Bayangin aja, yang
tau tentang pendaftaran CPNS Cuma yang kenal sama Bapak A aja dong. Di zaman
keterbukaan informasi sekarang ini, semua orang punya hak yang sama dalam
memperoleh informasi. Asal sekali lagi, cerdas memilih dan memilah sumber yang
valid. Oleh karena itu, kita harus selalu update info-info dari website
Kemenpan atau BKN.
3.
Banyak orang yang terjebak dengan cara menjadi
pegawai honorer dengan gaji yang sangat kecil, jauh di bawah UMR demi penantian
untuk menjadi seorang CPNS. Hal ini khususnya terjadi di sekolah. Banyak yang
beranggapan, kalau dengan menjadi pegawai honorer beberapa tahun, kita akan
dimudahkan untuk menjadi CPNS. Saya selalu sedih ketika mengingat guru honorer
yang gajinya sangat amat kecil, sekitar 300 ribu perbulan. Banyak rekan saya
yang menjadi guru honorer dan bertahan dengan profesi tersebut dengan alasan “agar
mudah diangkat menjadi CPNS”. Sekali lagi, saya tegaskan anggapan tersebut
sangatlah amat tidak benar. Kalau alasannya, ingin mencari pengalaman atau
ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan, saya sangat acungi jempol. Namun
kalau hanya untuk menjadi CPNS, saya rasa tidak perlu menunggu penantian
bertahun-tahun dengan gaji yang sangat teramat kecil. Kalau menjadi pegawai
honorer di instansi pemerintah yang memang memberi gaji yang memadai tidak
masalah, namun kalau di sekolah khususnya SD saya kurang setuju. Bukan apa-apa,
menurut saya, kalau memang bercita-cita ingin menjadi seorang CPNS, lebih baik
sambil menunggu pembukaan CPNS, mencari pekerjaan dengan gaji yang memadai
sambil berlatih CPNS. Saya juga pernah menjadi honorer dengan niat mengabdikan
diri dan memanfaatkan waktu saja, tidak melihat nominal gaji. Namun ketika saya
merasa pekerjaan tersebut membebani saya sehingga saya kurang ada waktu untu berlatih
soal-soal CPNS yang menjadi prioritas saya, saya mengajukan resign. Sulit sekali mengajukan resign
pada saat itu. Salah seorang guru berkata kepada saya, “Sayang Neng, kalau
resign. Kalau udah kerja bertahun-tahun, gampang diangkat jadi CPNS-nya.” Saya
hanya manut-manut saja pada saat itu, padahal saya yakin kalau mau jadi CPNS
tidak harus menunggu bertahun-tahun. Asalkan kita berusaha sungguh-sungguh dan
maksimal dalam setiap tahapan, insya Allah kita mampu bersaing dengan orang
lain. Saat itulah saya bertekad dalam hati, “Ya Bu, tapi saya tidak akan
seperti Ibu yang menjadi pegawai honorer beberapa tahun untuk diangkat menjadi
PNS. Saya akan langsung menjadi PNS karena kemampuan saya saat tes CPNS.”
4.
Ini berhubungan dengan poin nomor 2. Banyak orang
yang langsung tiba-tiba melakukan pendekatan dengan orang-orang yang dianggap ‘orang
dalam’. Yang disebut orang dalam disini contohnya pejabat-pejabat BKD. Ayah
saya sempat berkarier di BKD dan pernah beberapa kali menerima orang-orang yang
datang dan berupaya agar diangkat menjadi CPNS. Ini benar-benar anggapan yang
kuno. Mungkin dulu pernah ada masa dimana untuk menjadi CPNS harus melakukan
ritual seperti ini terlebih dahulu. Namun hey, ini zaman canggih, Broo.... Jangan pernah mempercayakan keberuntungan
kepada orang lain. Saya tegaskan, PERCAYALAH TERHADAP KEMAMPUAN DIRI SENDIRI.
Ayah saya juga berupaya mensosialisasikan kepada warga masyarakat bahwa
penerimaan CPNS zaman sekarang itu benar-benar objektif. Tidak perlu melakukan
pendekatan atau kirim-kirim kue kepada siapapun. Lebih baik kuenya dimakan oleh
kita sendiri sebagai cemilan di sela-sela berlatih soal-soal CPNS, okay? ;)
5.
Saudara saya pernah tertipu dengan salah seorang
oknum yang mengatakan bahwa kalau ingin jadi CPNS, harus bayar ratusan juta.
Sayang sekali, saudara saya ini telah terlanjur mengeluarkan uang tersebut dan
memang hal tersebut adalah hoax. Saya
juga sangat menyayangkan kenapa saudara saya tersebut tidak berdiskusi dengan
saya yang tidak mudah percaya kepada orang lain ini. Penerimaan CPNS saat ini benar-benar
mengandalkan kemampuan otak sendiri, bukan kemampuan dompet sendiri. Lebih baik
uang yang kita punya kita belikan buku-buku latihan CPNS.
6.
Memang banyak orang yang malas untuk mendaftar
CPNS karena ribetnya seleksi administrasi, harus ada kartu kuning lah, harus
ada surat keterangan catatan kepolisian lah, dan sebagainya. Memang mitos nomor
6 ada benarnya juga, agak ribet mengurus surat-surat, kita harus mengorbankan
waktu kita untuk berkeliling ke setiap loket dan mengantri. Sebenarnya, pada
penerimaan CPNS tahun 2014, seleksi administrasi tidak lagi seribet itu. Hanya
ada beberapa surat saja yang perlu kita urus, tidak sebanyak sebelumnya. Kalau
tidak salah, hanya membuat surat keterangan sehat, bebas narkoba, dan surat
keterangan catatan kepolisian saja. Namun ya untuk berjaga-jaga, tidak ada
salahnya juga mengurus surat yang lainnya.
7.
Lolos atau tidaknya kita menjadi CPNS SANGAT
BERGANTUNG PADA HASIL TES CPNS. Sejak tahun 2013, seleksi CPNS menggunakan
aplikasi CAT (Computer Assissted Test)
dimana kita mengerjakan langsung di komputer, dan penggunaannya pun sangat
mudah, lalu selesai mengerjakan kita langsung mengetahui skor hasil tes kita.
Ketika kita keluar dari ruangan tes, kita dapat melihat papan berjalan berisi
skor seluruh peserta tes yang telah diranking. Benar-benar terbuka, bukan? Jadi
setelah itu, kita dapat memprediksi kita lolos atau tidak. Apabila skor kita
bagus dan berada di posisi atas, kita dapat lebih tenang. Dengan adanya
keterbukaan informasi seperti ini, kita memiliki bukti otentik. Misalnya,
ketika pengumuman resmi kelulusan CPNS keluar namun nama kita tidak lolos
padahal kita mendapatkan skor yang bagus, kita dapat melakukan protes kepada
pihak panitia. Hasil CAT ini benar-benar tidak dapat diganggu gugat.
8.
Sistem penerimaan CPNS sekarang ini sangat
terbuka. Di website Kemenpan maupun BKN, tersedia lowongan-lowongan instansi
dan formasi jabatan untuk CPNS. Kita dapat memilih dimanapun di seluruh
Indonesia. Orang Kabupaten Kuningan tidak harus mendaftar sebagai CPNS Pemkab
Kuningan, bisa saja misalnya mendaftar di Pemprov Papua selagi instasi dan
formasi jabatannya tersedia.
9.
Bagi saya, soal-soal yang diujikan dalam tes
CPNS tidak sesulit soal-soal SNMPTN. Maklum, saya gagal saat mengikuti SNMPTN,
hehehe.. Soal SNMPTN IPA sarat dengan hitungan dan rumus Matematika yang sangat
rumit, pada saat itu saya belum terlalu suka Matematika. Soal tes CPNS hanya
terdiri dari Tes Karakteristik Pribadi, Tes Wawasan Kebangsaan, dan Tes
Intelegensia Umum. Tes Karakteristik Pribadi (TKP) ini yang paling gampang,
soal-soalnya seperti soal-soal PKn SD. Kita tinggal memilih jawaban yang paling
ideal saja (tidak perlu sesuai dengan kebiasaan kita, yang penting kita ada
niat untuk mengambil sikap yang terbaik hehehe). Contoh soalnya semacam: “Ketika
sedang mengikuti rapat, lalu ada anggota keluarga yang sakit, apa yang akan
Anda lakukan?” gitu-gitu lah, intinya kan kita memilih jawaban yang paling
bijak dan sesuai dengan etika. Kalau Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) ini yang
dianggap paling sulit diantara dua jenis soal lainnya. Tes ini berupa soal-soal
materi PKn dan Sejarah sekolah menengah, seperti Pancasila, UUD 1945, Sistem
Pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, gitu-gitu dah. Pokoknya tinggal baca buku
pelajaran PKn dan Sejarah SMA deh. Beberapa teman saya gagal tes CPNS karena
skor TWK-nya di bawah passing grade. Jadi memang diperlukan hapalan yang kuat
untuk menguasai TWK ini. Nah kalau Tes Intelegensia Umum (TIU) itu seperti
psikotes, semacam deret bilangan, padanan kata, silogisme, perbandingan, dan
sebagainya. Kita tinggal sering-sering berlatih psikotes saja, hitungannya pun
tidak sulit.
Jadi, pesan dari saya, intinya kita harus menjadi anak muda
yang cerdas, kritis, dan melek informasi. Percayalah pada kemampuan diri
sendiri, berdoa, dan minta restu orang tua. Insya Allah ketika ada niat yang
baik dan kita selalu optimis, Allah akan memudahkan. Aamiin....
CPNS dengan Pakaian Dinas Harian (PDH) warna khaki
Rabu, 23 Desember 2015
Pemecahan Masalah (Problem Solving)
A.
Pengertian
Masalah
Cooney
et al. (Shadiq, 2014) menyatakan
pengertian masalah sebagai berikut “…for
a question to be a problem, it must present a challenge that cannot be resolved
by some routine procedure known to the student.” Berdasarkan pernyataan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa ‘tantangan’ dan ‘belum diketahuinya prosedur
rutin’ pada suatu pertanyaan yang akan diberikan kepada para siswa akan
menentukan terkategorikan tidaknya suatu pertanyaan menjadi ‘masalah’ atau
hanyalah suatu ‘soal’ biasa.
B.
Pengertian
Pemecahan Masalah
Terdapat
beberapa pendapat mengenai pengertian pemecahan masalah dari yang dikemukakan
oleh para ahli. Polya (1962: 117) mengatakan “.... to have a problem means: to search consiciously for some action
appropriate to attain a clearly conveived, but not immediately attainable, aim.
To solve a problem means to find such action.” Berdasarkan pendapat
tersebut, dapat disimpulkan bahwa memiliki masalah merupakan mencari beberapa
tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan, namun tidak dengan
segera tercapai. Memecahkan masalah berarti menemukan beberapa tindakan.
Sedangkan
menurut Wena (2011: 60), pemecahan masalah adalah petunjuk untuk melakukan
suatu tindakan yang berfungsi untuk membantu seseorang dalam menyelesaikan
suatu permasalahan.
Sementara
itu, Shadiq (2014: 105) menyatakan bahwa pemecahan masalah (problem solving) adalah proses berpikir
untuk menentukan apa yang harus dilakukan ketika kita tidak tahu apa yang harus
kita lakukan.
Lebih lanjut, Xin et al. (2008) menjelaskan kemampuan
pemecahan masalah sebagai berikut:
Problem
solving is the cornerstone of school mathematics. specific problem-solving
behaviors distinguish successful problem solvers from poor problem solvers. For
instance, successful problem solvers (a) quickly and accurately identify the
mathematical structure (e.g. compare) of a problem that is generalizable across
a wide range of similar problems, (b) remember a problem's structure for a long
time, and (c) distinguish relevant from irrelevant information.
Berdasarkan
penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah merupakan
landasan pembelajaran matematika.. Beberapa karakteristik pemecah masalah yang
berhasil misalnya (a) dengan cepat dan akurat mengidentifikasi struktur
matematika (contoh: membandingkan) dari masalah yang digeneralisasikan di
berbagai macam masalah yang sama, (b) ingat struktur masalah ini untuk waktu
yang lama, dan (c) membedakan informasi yang relevan dari informasi yang tidak
relevan. Singkatnya, pemecah masalah sukses membangun masalah mereka pemecahan
pada model konseptual dari situasi masalah.
Berdasarkan
pengertian-pengertian yang telah dikemukakan para ahli tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pemecahan masalah (problem
solving) memiliki dua peran, yaitu sebagai salah satu model/pendekatan
pembelajaran dan sebagai salah satu kemampuan yang diperoleh siswa setelah
mempelajari Matematika.
C.
Langkah-langkah
Pemecahan Masalah
Adapun langkah-langkah
pemecahan masalah adalah sebagai berikut (Polya, 1956):
-
Memahami masalahnya.
-
Membuat rencana penyelesaian
-
Melaksanakan rencana penyelesaian.
-
Memeriksa kembali, mengecek hasilnya.
Dewey (Nasution, 2009:
171) mengemukakan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut:
a.
Pelajar dihadapkan dengan masalah
b.
Pelajar merumuskan masalah
c.
Ia merumuskan hipotesis
d.
Ia menguji hipotesis
Dalam Ruhimat et al. (2009: 144), beberapa langkah
umum pemecahan masalah yang dapat ditempuh ialah:
a. Mengenal
permasalahan
b. Merumuskan
masalah
c. Mengumpulkan
berbagai data atau keterangan untuk pemecahan masalah
d. Merumuskan
dan menyeleksi kemungkinan pemecahan masalah
e. Implementasi
dan evaluasi
Ketiga pendapat
tersebut pada intinya sama. Berdasarkan ketiga pendapat tersebut, dapat
disimpulkan bahwa Pendekatan Problem
Solving adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang langkah-langkahnya
meliputi: memahami masalahnya, membuat rencana penyelesaian, melaksanakan
rencana penyelesaian, serta memeriksa kembali/mengecek hasilnya.
Langkah-langkah tersebut masih berupa langkah-langkah yang bersifat umum dan
belum bersifat teknis, adapun prosedur pemecahan masalah yang dikemukakan
Giancoli (Wena, 2011: 60) antara lain:
a.
Baca masalahnya secara menyeluruh dan
hati-hati sebelum mencoba untuk memecahkannya.
b.
Tulis apa yang diketahui atau yang
diberikan, kemudian tuliskan apa yang ditanyakan.
c.
Pikirkan tentang prinsip, definisi,
dan/atau persamaan hubungan besaran yang berkaitan. Sebelum mengerjakannya
yakinkan bahwa prinsip, definisi dan/atau persamaan tersebut valid. Jika
ditemukan persamaan yang hanya memuat kuantitas yang diketahui dan satu tidak
diketahui, selesaikan persamaan tersebut secara aljabar.
d.
Pikirkanlah dengan hati-hati tentang
hasil yang diperoleh, apakah masuk akal atau tidak masuk akal?
e.
Suatu hal yang sangat penting adalah
perhatikan satuan, serta cek penyelesaiannya.
Langkah-langkah
Problem Solving yang dikemukakan
Giancoli tersebut merupakan penjabaran dari langkah-langkah yang dikemukakan
Polya maupun Dewey. Berdasarkan langkah-langkah yang dikemukakan para ilmuwan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Problem Solving dapat memfasilitasi siswa untuk dapat memecahkan
masalah secara sistematis sehingga materi yang diperoleh siswa dapat lebih
bermakna dan kemampuan matematis siswa pun akan lebih terasah karena dibutuhkan
keterampilan-keterampilan tertentu dalam memecahkan masalah.
D.
Contoh
Pemecahan Masalah
Berikut
contoh soal pemecahan masalah:
Kotak-kotak
persegi di bawah ini harus diisi dengan bilangan 1, 2, 3, …, 9. Setiap bilangan
muncul tepat satu kali. Bilangan-bilangan yang terdapat pada bagian kanan dan
bawah merupakan hasil perkalian tiga bilangan pada setiap baris dan kolom yang
bersesuaian. Tentukan bilangan yang dinyatakan dengan tanda “*”.
72 105
48
|
144
126
20
|
Untuk
menyelesaikan masalah ini, kita dapat memberi pemisalan terhadap angka-angka
yang dimasukkan dengan cara memberi huruf a, b, c, d, e, f, g, h, dan i pada
kolom yang kosong.
72 105
48
|
144
126
20
|
Huruf
h = 5, karena 5 merupakan faktor dari 20 dan 105. Perhatikan bahwa hanya 20 dan
105 yang habis dibagi 5. Bilangan lain tidur memiliki faktor 5 tersebut. Huruf
e = 7, karena 7 merupakan faktor 105 dan 126. Berdasar hasil yang sudah
diperoleh, dapat disimpulkan bahwa b = 5 dan f = 2. Selanjutnya, g dan I
bernilai 4 dan g = 1. Jadi, bilangan yang harus dimasukkan ke dalam persegi
dengan tanda “*” adalah 4. Selanjutnya, berdasarkan tahapan pemecahan masalah,
kita dapat mengecek kembali apakah hasil yang telah diperoleh sesuai dengan
ketentuan, yakni bilangan-bilangan yang terdapat pada bagian kanan dan bawah
merupakan hasil perkalian tiga bilangan pada setiap baris dan kolom yang
bersesuai.
DAFTAR
RUJUKAN
Nasution, S. (1982). Berbagai
Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Polya, G. (1956). How to Solve
It: A New Aspect of Mathematical Method. Zurich: Princeton Paperbacks.
Ruhimat, T. et al. (2009). Kurikulum & Pembelajaran. Bandung:
Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.
Shadiq, F. (2014). Pembelajaran Matematika: Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Suriasumantri,
J.S. (2009). Filsafat Ilmu: Sebuah
Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Wena, M. (2011). Strategi
Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Xin,
Y. P. et al. (2008). Teaching
Conceptual Model-Based Word Problem Story Grammar to Enhance Mathematics
Problem Solving. The Journal of Special Education, 42, 163-178.
Langganan:
Postingan (Atom)
