Jumat, 09 Juni 2017

Diklat Prajabatan Pola Baru

Haiii Guyysss....
Kali ini aku mau berbagi pengalaman tentang Prajabatan, hehehe. Siapa tau ada Akang/Teteh yang kebetulan akan atau sedang dalam proses Prajabatan kita bisa sharing hehe. Well, apa sih prajabatan itu? Prajabatan adalah sebuah proses pendidikan dan pelatihan yang wajib diikuti semua Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebagai syarat untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Landasan yuridisnya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menetapkan bahwa diklat untuk pembentukan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) adalah Diklat Prajabatan.  Mungkin Akang/Teteh sudah tahu prajabatan dari keluarga atau kerabat yang berprofesi sebagai PNS. Dan salah satu ciri khas orang-orang yang sedang mengikuti Prajabatan adalah pakaiannya hitam putih hihihiii.. Untuk dasi, beberapa instansi berbeda-beda, namun pada saat aku mengikuti Prajabatan, siswa laki-laki harus memakai dasi biasa sedangkan siswa perempuannya memakai dasi kupu-kupu coba, ga kaya waitresses gimanaa -____-
Aku mengikuti Prajabatan sekitar bulan Oktober 2015 di Gedung Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Badiklatda) Provinsi Jawa Barat yang beralamat di Jalan Windu Kota Bandung. Angkatan kami termasuk angkatan yang menjalani Diklat Prajabatan Pola Baru. Well, kaya gimana sih Diklat Prajabatan Pola Baru ituu? Jadi, Diklat Prajabatan Pola Baru adalah Diklat yang memuat nilai-nilai ANEKA sebagai materi utamanya. ANEKA itu singkatan dari Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi. Penyelenggaraan Diklat Prajabatan tersebut mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil dan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 15 Tahun 2015 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III yang diangkat dari Pelamar Umum. Penyelenggaraan Diklat Prajabatan bertujuan untuk membentuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang profesional, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang karakternya dibentuk oleh nilai-nilai Dasar Pegawai Negeri Sipil (PNS), sehingga mampu melaksanakan tugas dan perannya secara profesional sebagai pelayan publik. Hal tersebut juga mengacu berdasarkan permasalahan saat ini dimana SDM aparatur yang sepatutnya menjadi contoh panutan bagi masyarakat malah terkadang dicap negatif, seperti yang korupsi lah, yang mangkir lah, pungli lah, kurang profesional lah, de el el.
Diklat juga dilaksanakan dalam dua sesi, on class dan off class. Dalam on class, kita diasramakan gitu lah disana, seru banget pokoknya. Kehidupan kita sehari-hari itu, jadi pukul 03.00 kita uda pada bangun dan antri mandi, pukul 04.00 kita harus udah siap ke mesjid untuk salat Shubuh berjamaah, abis Subuh kita tadarusan dan mendengarkan tausyiah. Yang jadi MC dan penceramahnya dari kita-kita juga loh, bergilir ada jadwalnya. Jadi seru kaan bisa belajar jadi MC dan penceramah. After that, kita kembali ke kamar dan pukul 05.30 udah harus ada di lapangan untuk olahraga. Mungkin beberapa dari kita sebel sama keseharian kaya gini yang nuntut untuk bangun pagi banget, ga kurang diospek gimana coba.... Tapi ternyata pendidikan ini bermanfaat banget untuk kita ke depannya. Banyak hikmah yang bisa diambil. Untuk yang beragama muslim khususnya, kita terlatih untuk bangun dini hari, melaksanakan ibadah salat malam sampai subuh, dan melaksanakan aktivitas selanjutnya tanpa tidur lagi. Selain itu, karena ketika memasuki dunia PNS yang sesungguhnya, paling tidak sebulan dua kali, kita akan melaksanakan dinas luar, yaitu bertugas ke luar kota untuk menggali informasi, berdiskusi, dan lain sebagainya. Dinas luas emang nyenengin karena selain bisa jalan-jalan gratis, silaturahmi, dan dapat ilmu, kita juga dibekali uang saku hehe.... Tapi kita juga harus rela berkorban bangun dini hari karena untuk mengejar pagi sekitar pukul 09.00 di tempat bertugas, kita harus berangkat pagi sekali. Terus buat apa kita olahraga tiap hari? Tentu penting banget! Selain karena penting untuk kesehatan dan bentuk syukur kita, PNS sebagai panutan masyarakat tentu harus menjadi pribadi yang sehat dan tangguh. Nih ya, mau jadi tentara sama polisi aja tes kebugarannya gila-gilaan, apalahi PNS. Menurutku, PNS itu kalau punya tubuh sehat dan ideal ga cuma bermanfaat untuk diri sendirinya aja tapi juga pandangan orang lain. Di saat banyak yang memandang PNS itu banyak yang korupsi makan uang haram de el el, kita tunjukkan kita engga kaya gitu. Memang sih sebagian PNS buncit karena seringnya mengikuti rapat dan kalau dikasih snack atau konsumsi ga tanggung-tanggung. Tapi kita sebagai agen of change harus buktikan kita ga rakus dan hidup bersahaja, hasekkk.. Udah gitu keseharian kita ada apel berkali-kali, ada apel pagi, terus setiap makan pagi, siang, malam juga kita baris dulu, dan apel malam pukul 21.00. Petugas apel kaya pembina upacara, pemimpin pasukan, MC, pembaca doa, dirigen, de el el juga bergilir. Iya lah ini penting banget abisnya kan di kantor kita masing-masing juga apel itu merupakan suatu kewajiban sebagai bentuk loyalitas kita. Dan of course kita harus belajar jadi petugas apel.
Di on class ini kegiatan kita kebanyakan kuliah di kelas dengan para widyaiswara yang baik hati. Humanis banget lah pembelajaran disana. Kita bisa dapet banyak ilmu yang bermanfaat dan diskusi banyak hal, apalagi mungkin sebagian dari kita kena cultural shock ketika pertama kali memasuki dunia PNS. Ini juga mungkin menjadi ajang bagi para widyaiswara untuk membentuk calon PNS yang berkarakter dan memiliki idealisme yang baik. Abis gitu like usual, kita dikasih tugas. Dan of course tugas itu kita kerjakan di kamar masing-masing sehabis apel malam. Jadi waktu tidur kita saat itu hanya kurang lebih 3 sampai 4 jam lah hehehe, ini bagus loh karena kan emang kita ga boleh kebanyakan tidur.... Di dalam on class ini kita juga menyusun rancangan aktualisasi yang akan diseminarkan di akhir on class dan diimplementasikan pada saat off class. Aktualisasi itu jadi kaya kita kembali ke kantor masing-masing untuk bekerja dan bagaimana caranya menerapkan nilai ANEKA dalam setiap pekerjaan kita, lalu kita buat laporannya. Keren banget kan, jadi kaya nyusun skripsi atau tesis gitu... Ada seminar proposal, terus penelitian, bimbingan, dan sidang hehehe.. Nah di masa menjelang akhir on class juga kita dibagi coach atau kalau di kuliah ma dosen pembimbing lah yang akan membimbing kita menyusun laporan aktualisasi. Saat seminar rancangan, like usual kita presentasi di depan beberapa penguji. Kita juga didampingi mentor atau atasan langsung kita dari kantor masing-masing. Kita harus dapat meyakinkan penguji bahwa rancangan aktualisasi kita itu dapat diimplementasikan dan mengandung nilai-nilai ANEKA. Oh iya, di akhir on class juga kita mengikuti tes tulis berupa soal-soal materi yang telah kita dapatkan selama di kelas.
Next, memasuki masa off class, kita sedih banget.... Gimana enggak, kita udah bareng selama kurang lebih dua pekan terus harus pisah lagi untuk kembali ke kantor masing-masing. Terutama sama teman sekamar ma sedih banget lah, 24 jam nonstop atuh sama mereka terus hehehe.... Memang sih masa Prajab belum berakhir, tapi ketika kita kembali lagi untuk sidang akhir kan udah kita cuma sidang aja engga akan babarengan lagi.. Well, kita pun kembali ke kantor masing-masing menjalankan rutinitas seperti biasanya, namun masih menggunakan baju hitam putih dan nametag sebagai penciri bahwa kita sedang Diklat (dan diharapkan tidak diberi tugas yang di luar kepentingan Diklat, hehehehe). Selama off class kita sambil nyusun laporan aktualisasi dan ngumpulin evidence-nya. Evidence itu kaya buktinya gitu, macam foto kita lagi rapat misalnya, atau berkas kaya surat disposisi dari atasan, atau juga notula kita hasil mengikuti rapat. Di masa-masa ini juga kita kadang ke Asrama Windu lagi untuk bimbingan dengan coach. Di akhir masa off class, kita kembali lagi ke Windu, menginap semalam, dan besoknya Sidang Aktualisasi.

Well begitulah kira-kira gambaran sedikit tentang Diklat Prajabatan yang pernah aku ikuti. Intinya aku seneng banget dan puas ikut Diklat saat itu! J see you....

Jumat, 20 Januari 2017

A Short Story of Hustiadi: Childhood and Teenager #1

Hustiadi was born in Dadiharja Village Rancah Ciamis, October 8th 1962. He is the first child of Husen, a teacher and Kantini, a housewife. Why was he named “Hustiadi”? What is the meaning of that name? When Kantini was pregnant, there was an incident. Some missionarists intended to build a church in Subang, a district near Dadiharja. Husen with his strong religion didn’t agree with that plan. One of his family was also affected by those missionarists and converted to Christian because of his poverty and as we know, missionarists usually do the approach to the poor people. To discomfit the missionarists, Husen went to Bandung and try to communicate with the pastor in the central church in Bandung. After that negotiation, the missionarists canceled the plan to build a church in Subang. When Kantini’s baby was born, Husen wanted the name of the baby can be memorized his heroic action. So, he named his first child: “HUSTIADI” which means “HUSEN TIDAK INGKAR AKAN DJALAN ALLAH”. He wished the baby could grow up as a man with the bravery and his strong religion.

Hustiadi has a younger brother and a younger sister. Hustiadi spent his childhood in Dadiharja and when he was teenager, he moved to Kuningan because Husen was reassigned to Kuningan. Hustiadi showed good performance in the subjects when he was in senior high school. Unfortunately, he got the intestinal pain when he was in the first year of senior high school. It made him has to get the intestinal surgery and missed the lessons for a while. At that time, he was going to die. After the, intestinal surgery, Hustiadi slept for some days. His father was pessimistic that he could be recover again. And in the morning, Hustiadi showed a movement when his father was praying. His father was so affected and said it was like finding the lost boy. Hustiadi saw it and he never forget his father’s words until now.

Kamis, 02 Juni 2016

MITOS DAN FAKTA SEPUTAR PENERIMAAN CPNS

Haiiiiii jumpa lagi dengan saya yang sudah lama tidak berkoar-koar di blog. Maklum, mau curcol teh asa ironi gituu tesis aja belum ada progress lagi, masak mau nulis yang gepete. Tapi gapapalah ya, mumpung sekarang kebetulan di kantor sedang agak santai, sepi, orang-orang pada dinas luar, khususnya mah atasan langsung saya sedang bertugas di luar hihihii.. Maaf, bukan bermaksud gabut tapi yaa ingin memanfaatkan waktu aja dengan hal-hal yang saya sukai. Well, udah dari sejak lama saya ingin post mengenai CPNS. Cuma kan konteks CPNS itu luas ya, saya sebenarnya benar-benar ingin share dari mulai pengalaman saya sekecil apapun. Cuma kalo kali ini saya sedang tertarik memposting “MITOS DAN FAKTA PENERIMAAN CPNS”. Gara-garanya kemarin-kemarin saya sempat dengar akan ada penerimaan CPNS kembali tahun 2016 ini. Banyak teman yang bertanya kepada saya mengenai kebenaran berita tersebut, namun saya pribadi belum dapat menentukan hal tersebut hoax atau bukan. Saya hanya menjawab berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya. Saya sendiri seringkali gatal dengan beberapa anggapan mengenai sistem penerimaan CPNS yang bagi saya itu sangat kuno dan sekarang sudah tidak berlaku lagi. Baik, berdasarkan kegatalan saya tersebut, saya pun berusaha sedikit-sedikit mensosialisasikan kebenaran-kebenaran dan ketidakbenaran-ketidakbenaran seputar penerimaan CPNS melalui postingan saya ini.

MITOS:
1.       Menjadi seorang CPNS adalah hal yang sangat sulit sehingga bisa menjadi CPNS disebut sebagai sebuah keajaiban.
2.       Info resmi penerimaan CPNS didapatkan dari mulut ke mulut, kurang terbuka, agar hanya kerabat-kerabat ‘orang dalam’ saja yang mendapatkan informasi tersebut.
3.       Kalau ingin jadi CPNS harus menjadi pegawai honorer terlebih dahulu selama bertahun-tahun.
4.       Kalau mau lolos CPNS, harus punya ‘orang dalam’ yang minimal-minimal pejabat Eselon IV.
5.       Kalau mau lolos CPNS, harus pake uang ratusan juta.
6.       Seleksi administrasi CPNS sangatlah ribet.
7.       Hasil tes CPNS tidak akan berpengaruh apapun karena pada ujung-ujungnya penerimaan CPNS sangat berbau KKN.
8.       Penempatan CPNS tergantung dari domisili kita.
9.       Soal-soal tes CPNS sangat sangat amat sulit.


Beberapa pernyataan di atas sangat amat tidak benar. Faktanya....

FAKTA:
1.       Menjadi CPNS merupakan hal yang relatif mudah, usaha-usaha untuk menggapainya juga sangat konkret, sehingga hal tersebut merupakan pencapaian yang lumrah dalam kehidupan ini.
2.       Seiring berkembangnya zaman, teknologi khususnya di bidang informasi pun berkembang pesat. Sehingga informasi mengenai penerimaan CPNS pun sangat terbuka. Internet menjadi kebutuhan pokok masyarakat di era modern. Berbagai sistem penerimaan pun hampir disosialisasikan melalui media ini. Kita harus cerdas dalam memfilter informasi, jangan sampai terjebak dalam info-info hoax. Informasi mengenai penerimaan CPNS hanya tersedia di website resmi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) dan juga Badan Kepegawaian Negara (BKN). Berbagai informasi lengkap dan jelas tersedia disana. Pendaftaran awal pun dilakukan dengan cara menginput data kita di website tersebut. Jangan pernah percaya akan omongan orang-orang yang sekiranya kurang dapat dipercaya, misal: “Kata Bapak A, pembukaan CPNS udah mulai, daftarnya ke Bapak A juga. Ayo ke rumahnya Bapak A sambil bawain kue.” Nah, hal-hal kaya gitu ga bener banget. Bayangin aja, yang tau tentang pendaftaran CPNS Cuma yang kenal sama Bapak A aja dong. Di zaman keterbukaan informasi sekarang ini, semua orang punya hak yang sama dalam memperoleh informasi. Asal sekali lagi, cerdas memilih dan memilah sumber yang valid. Oleh karena itu, kita harus selalu update info-info dari website Kemenpan atau BKN.
3.       Banyak orang yang terjebak dengan cara menjadi pegawai honorer dengan gaji yang sangat kecil, jauh di bawah UMR demi penantian untuk menjadi seorang CPNS. Hal ini khususnya terjadi di sekolah. Banyak yang beranggapan, kalau dengan menjadi pegawai honorer beberapa tahun, kita akan dimudahkan untuk menjadi CPNS. Saya selalu sedih ketika mengingat guru honorer yang gajinya sangat amat kecil, sekitar 300 ribu perbulan. Banyak rekan saya yang menjadi guru honorer dan bertahan dengan profesi tersebut dengan alasan “agar mudah diangkat menjadi CPNS”. Sekali lagi, saya tegaskan anggapan tersebut sangatlah amat tidak benar. Kalau alasannya, ingin mencari pengalaman atau ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan, saya sangat acungi jempol. Namun kalau hanya untuk menjadi CPNS, saya rasa tidak perlu menunggu penantian bertahun-tahun dengan gaji yang sangat teramat kecil. Kalau menjadi pegawai honorer di instansi pemerintah yang memang memberi gaji yang memadai tidak masalah, namun kalau di sekolah khususnya SD saya kurang setuju. Bukan apa-apa, menurut saya, kalau memang bercita-cita ingin menjadi seorang CPNS, lebih baik sambil menunggu pembukaan CPNS, mencari pekerjaan dengan gaji yang memadai sambil berlatih CPNS. Saya juga pernah menjadi honorer dengan niat mengabdikan diri dan memanfaatkan waktu saja, tidak melihat nominal gaji. Namun ketika saya merasa pekerjaan tersebut membebani saya sehingga saya kurang ada waktu untu berlatih soal-soal CPNS yang menjadi prioritas saya, saya mengajukan resign. Sulit sekali mengajukan resign pada saat itu. Salah seorang guru berkata kepada saya, “Sayang Neng, kalau resign. Kalau udah kerja bertahun-tahun, gampang diangkat jadi CPNS-nya.” Saya hanya manut-manut saja pada saat itu, padahal saya yakin kalau mau jadi CPNS tidak harus menunggu bertahun-tahun. Asalkan kita berusaha sungguh-sungguh dan maksimal dalam setiap tahapan, insya Allah kita mampu bersaing dengan orang lain. Saat itulah saya bertekad dalam hati, “Ya Bu, tapi saya tidak akan seperti Ibu yang menjadi pegawai honorer beberapa tahun untuk diangkat menjadi PNS. Saya akan langsung menjadi PNS karena kemampuan saya saat tes CPNS.”
4.       Ini berhubungan dengan poin nomor 2. Banyak orang yang langsung tiba-tiba melakukan pendekatan dengan orang-orang yang dianggap ‘orang dalam’. Yang disebut orang dalam disini contohnya pejabat-pejabat BKD. Ayah saya sempat berkarier di BKD dan pernah beberapa kali menerima orang-orang yang datang dan berupaya agar diangkat menjadi CPNS. Ini benar-benar anggapan yang kuno. Mungkin dulu pernah ada masa dimana untuk menjadi CPNS harus melakukan ritual seperti ini terlebih dahulu. Namun hey, ini zaman canggih, Broo....  Jangan pernah mempercayakan keberuntungan kepada orang lain. Saya tegaskan, PERCAYALAH TERHADAP KEMAMPUAN DIRI SENDIRI. Ayah saya juga berupaya mensosialisasikan kepada warga masyarakat bahwa penerimaan CPNS zaman sekarang itu benar-benar objektif. Tidak perlu melakukan pendekatan atau kirim-kirim kue kepada siapapun. Lebih baik kuenya dimakan oleh kita sendiri sebagai cemilan di sela-sela berlatih soal-soal CPNS, okay? ;)
5.       Saudara saya pernah tertipu dengan salah seorang oknum yang mengatakan bahwa kalau ingin jadi CPNS, harus bayar ratusan juta. Sayang sekali, saudara saya ini telah terlanjur mengeluarkan uang tersebut dan memang hal tersebut adalah hoax. Saya juga sangat menyayangkan kenapa saudara saya tersebut tidak berdiskusi dengan saya yang tidak mudah percaya kepada orang lain ini. Penerimaan CPNS saat ini benar-benar mengandalkan kemampuan otak sendiri, bukan kemampuan dompet sendiri. Lebih baik uang yang kita punya kita belikan buku-buku latihan CPNS.
6.       Memang banyak orang yang malas untuk mendaftar CPNS karena ribetnya seleksi administrasi, harus ada kartu kuning lah, harus ada surat keterangan catatan kepolisian lah, dan sebagainya. Memang mitos nomor 6 ada benarnya juga, agak ribet mengurus surat-surat, kita harus mengorbankan waktu kita untuk berkeliling ke setiap loket dan mengantri. Sebenarnya, pada penerimaan CPNS tahun 2014, seleksi administrasi tidak lagi seribet itu. Hanya ada beberapa surat saja yang perlu kita urus, tidak sebanyak sebelumnya. Kalau tidak salah, hanya membuat surat keterangan sehat, bebas narkoba, dan surat keterangan catatan kepolisian saja. Namun ya untuk berjaga-jaga, tidak ada salahnya juga mengurus surat yang lainnya.
7.       Lolos atau tidaknya kita menjadi CPNS SANGAT BERGANTUNG PADA HASIL TES CPNS. Sejak tahun 2013, seleksi CPNS menggunakan aplikasi CAT (Computer Assissted Test) dimana kita mengerjakan langsung di komputer, dan penggunaannya pun sangat mudah, lalu selesai mengerjakan kita langsung mengetahui skor hasil tes kita. Ketika kita keluar dari ruangan tes, kita dapat melihat papan berjalan berisi skor seluruh peserta tes yang telah diranking. Benar-benar terbuka, bukan? Jadi setelah itu, kita dapat memprediksi kita lolos atau tidak. Apabila skor kita bagus dan berada di posisi atas, kita dapat lebih tenang. Dengan adanya keterbukaan informasi seperti ini, kita memiliki bukti otentik. Misalnya, ketika pengumuman resmi kelulusan CPNS keluar namun nama kita tidak lolos padahal kita mendapatkan skor yang bagus, kita dapat melakukan protes kepada pihak panitia. Hasil CAT ini benar-benar tidak dapat diganggu gugat.
8.       Sistem penerimaan CPNS sekarang ini sangat terbuka. Di website Kemenpan maupun BKN, tersedia lowongan-lowongan instansi dan formasi jabatan untuk CPNS. Kita dapat memilih dimanapun di seluruh Indonesia. Orang Kabupaten Kuningan tidak harus mendaftar sebagai CPNS Pemkab Kuningan, bisa saja misalnya mendaftar di Pemprov Papua selagi instasi dan formasi jabatannya tersedia.
9.       Bagi saya, soal-soal yang diujikan dalam tes CPNS tidak sesulit soal-soal SNMPTN. Maklum, saya gagal saat mengikuti SNMPTN, hehehe.. Soal SNMPTN IPA sarat dengan hitungan dan rumus Matematika yang sangat rumit, pada saat itu saya belum terlalu suka Matematika. Soal tes CPNS hanya terdiri dari Tes Karakteristik Pribadi, Tes Wawasan Kebangsaan, dan Tes Intelegensia Umum. Tes Karakteristik Pribadi (TKP) ini yang paling gampang, soal-soalnya seperti soal-soal PKn SD. Kita tinggal memilih jawaban yang paling ideal saja (tidak perlu sesuai dengan kebiasaan kita, yang penting kita ada niat untuk mengambil sikap yang terbaik hehehe). Contoh soalnya semacam: “Ketika sedang mengikuti rapat, lalu ada anggota keluarga yang sakit, apa yang akan Anda lakukan?” gitu-gitu lah, intinya kan kita memilih jawaban yang paling bijak dan sesuai dengan etika. Kalau Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) ini yang dianggap paling sulit diantara dua jenis soal lainnya. Tes ini berupa soal-soal materi PKn dan Sejarah sekolah menengah, seperti Pancasila, UUD 1945, Sistem Pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, gitu-gitu dah. Pokoknya tinggal baca buku pelajaran PKn dan Sejarah SMA deh. Beberapa teman saya gagal tes CPNS karena skor TWK-nya di bawah passing grade. Jadi memang diperlukan hapalan yang kuat untuk menguasai TWK ini. Nah kalau Tes Intelegensia Umum (TIU) itu seperti psikotes, semacam deret bilangan, padanan kata, silogisme, perbandingan, dan sebagainya. Kita tinggal sering-sering berlatih psikotes saja, hitungannya pun tidak sulit.


Jadi, pesan dari saya, intinya kita harus menjadi anak muda yang cerdas, kritis, dan melek informasi. Percayalah pada kemampuan diri sendiri, berdoa, dan minta restu orang tua. Insya Allah ketika ada niat yang baik dan kita selalu optimis, Allah akan memudahkan. Aamiin....

CPNS dengan Pakaian Dinas Harian (PDH) warna khaki

Rabu, 23 Desember 2015

Pemecahan Masalah (Problem Solving)

A.       Pengertian Masalah
Cooney et al. (Shadiq, 2014) menyatakan pengertian masalah sebagai berikut “…for a question to be a problem, it must present a challenge that cannot be resolved by some routine procedure known to the student.” Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ‘tantangan’ dan ‘belum diketahuinya prosedur rutin’ pada suatu pertanyaan yang akan diberikan kepada para siswa akan menentukan terkategorikan tidaknya suatu pertanyaan menjadi ‘masalah’ atau hanyalah suatu ‘soal’ biasa.

B.       Pengertian Pemecahan Masalah
Terdapat beberapa pendapat mengenai pengertian pemecahan masalah dari yang dikemukakan oleh para ahli. Polya (1962: 117) mengatakan “.... to have a problem means: to search consiciously for some action appropriate to attain a clearly conveived, but not immediately attainable, aim. To solve a problem means to find such action.” Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa memiliki masalah merupakan mencari beberapa tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan, namun tidak dengan segera tercapai. Memecahkan masalah berarti menemukan beberapa tindakan.
Sedangkan menurut Wena (2011: 60), pemecahan masalah adalah petunjuk untuk melakukan suatu tindakan yang berfungsi untuk membantu seseorang dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
Sementara itu, Shadiq (2014: 105) menyatakan bahwa pemecahan masalah (problem solving) adalah proses berpikir untuk menentukan apa yang harus dilakukan ketika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan.
Lebih lanjut, Xin et al. (2008) menjelaskan kemampuan pemecahan masalah sebagai berikut:
Problem solving is the cornerstone of school mathematics. specific problem-solving behaviors distinguish successful problem solvers from poor problem solvers. For instance, successful problem solvers (a) quickly and accurately identify the mathematical structure (e.g. compare) of a problem that is generalizable across a wide range of similar problems, (b) remember a problem's structure for a long time, and (c) distinguish relevant from irrelevant information.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah merupakan landasan pembelajaran matematika.. Beberapa karakteristik pemecah masalah yang berhasil misalnya (a) dengan cepat dan akurat mengidentifikasi struktur matematika (contoh: membandingkan) dari masalah yang digeneralisasikan di berbagai macam masalah yang sama, (b) ingat struktur masalah ini untuk waktu yang lama, dan (c) membedakan informasi yang relevan dari informasi yang tidak relevan. Singkatnya, pemecah masalah sukses membangun masalah mereka pemecahan pada model konseptual dari situasi masalah.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah dikemukakan para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah (problem solving) memiliki dua peran, yaitu sebagai salah satu model/pendekatan pembelajaran dan sebagai salah satu kemampuan yang diperoleh siswa setelah mempelajari Matematika.

C.       Langkah-langkah Pemecahan Masalah
Adapun langkah-langkah pemecahan masalah adalah sebagai berikut (Polya, 1956):
-            Memahami masalahnya.
-            Membuat rencana penyelesaian
-            Melaksanakan rencana penyelesaian.
-            Memeriksa kembali, mengecek hasilnya.
Dewey (Nasution, 2009: 171) mengemukakan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut:
a.         Pelajar dihadapkan dengan masalah
b.        Pelajar merumuskan masalah
c.         Ia merumuskan hipotesis
d.        Ia menguji hipotesis
Dalam Ruhimat et al. (2009: 144), beberapa langkah umum pemecahan masalah yang dapat ditempuh ialah:
a.       Mengenal permasalahan
b.      Merumuskan masalah
c.       Mengumpulkan berbagai data atau keterangan untuk pemecahan masalah
d.      Merumuskan dan menyeleksi kemungkinan pemecahan masalah
e.       Implementasi dan evaluasi
Ketiga pendapat tersebut pada intinya sama. Berdasarkan ketiga pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Problem Solving adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang langkah-langkahnya meliputi: memahami masalahnya, membuat rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, serta memeriksa kembali/mengecek hasilnya. Langkah-langkah tersebut masih berupa langkah-langkah yang bersifat umum dan belum bersifat teknis, adapun prosedur pemecahan masalah yang dikemukakan Giancoli (Wena, 2011: 60) antara lain:
a.         Baca masalahnya secara menyeluruh dan hati-hati sebelum mencoba untuk memecahkannya.
b.        Tulis apa yang diketahui atau yang diberikan, kemudian tuliskan apa yang ditanyakan.
c.         Pikirkan tentang prinsip, definisi, dan/atau persamaan hubungan besaran yang berkaitan. Sebelum mengerjakannya yakinkan bahwa prinsip, definisi dan/atau persamaan tersebut valid. Jika ditemukan persamaan yang hanya memuat kuantitas yang diketahui dan satu tidak diketahui, selesaikan persamaan tersebut secara aljabar.
d.        Pikirkanlah dengan hati-hati tentang hasil yang diperoleh, apakah masuk akal atau tidak masuk akal?
e.         Suatu hal yang sangat penting adalah perhatikan satuan, serta cek penyelesaiannya.
Langkah-langkah Problem Solving yang dikemukakan Giancoli tersebut merupakan penjabaran dari langkah-langkah yang dikemukakan Polya maupun Dewey. Berdasarkan langkah-langkah yang dikemukakan para ilmuwan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Problem Solving dapat memfasilitasi siswa untuk dapat memecahkan masalah secara sistematis sehingga materi yang diperoleh siswa dapat lebih bermakna dan kemampuan matematis siswa pun akan lebih terasah karena dibutuhkan keterampilan-keterampilan tertentu dalam memecahkan masalah.

D.      Contoh Pemecahan Masalah
Berikut contoh soal pemecahan masalah:
Kotak-kotak persegi di bawah ini harus diisi dengan bilangan 1, 2, 3, …, 9. Setiap bilangan muncul tepat satu kali. Bilangan-bilangan yang terdapat pada bagian kanan dan bawah merupakan hasil perkalian tiga bilangan pada setiap baris dan kolom yang bersesuaian. Tentukan bilangan yang dinyatakan dengan tanda “*”.




  9




 *
             72     105    48

144
126
20

Untuk menyelesaikan masalah ini, kita dapat memberi pemisalan terhadap angka-angka yang dimasukkan dengan cara memberi huruf a, b, c, d, e, f, g, h, dan i pada kolom yang kosong.

 a
 b
 c
 d
 e
 f
 g
 h
 i
             72     105    48

144
126
20

Huruf h = 5, karena 5 merupakan faktor dari 20 dan 105. Perhatikan bahwa hanya 20 dan 105 yang habis dibagi 5. Bilangan lain tidur memiliki faktor 5 tersebut. Huruf e = 7, karena 7 merupakan faktor 105 dan 126. Berdasar hasil yang sudah diperoleh, dapat disimpulkan bahwa b = 5 dan f = 2. Selanjutnya, g dan I bernilai 4 dan g = 1. Jadi, bilangan yang harus dimasukkan ke dalam persegi dengan tanda “*” adalah 4. Selanjutnya, berdasarkan tahapan pemecahan masalah, kita dapat mengecek kembali apakah hasil yang telah diperoleh sesuai dengan ketentuan, yakni bilangan-bilangan yang terdapat pada bagian kanan dan bawah merupakan hasil perkalian tiga bilangan pada setiap baris dan kolom yang bersesuai.

DAFTAR RUJUKAN
Nasution, S. (1982). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Polya, G. (1956). How to Solve It: A New Aspect of Mathematical Method. Zurich: Princeton Paperbacks.
Ruhimat, T. et al. (2009). Kurikulum & Pembelajaran. Bandung: Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.
Shadiq, F. (2014). Pembelajaran Matematika: Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Suriasumantri, J.S. (2009). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Wena, M. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Xin, Y. P. et al. (2008). Teaching Conceptual Model-Based Word Problem Story Grammar to Enhance Mathematics Problem Solving. The Journal of Special Education, 42, 163-178.




Penalaran, Jenis-jenis Penalaran, dan Indikator Penalaran

A.     Konsep Penalaran
Penalaran dikenal juga dengan istilah reasoning. Terdapat beberapa pengertian mengenai penalaran yang dikemukakan para ahli. Suriasumantri (2009: 42) menjelaskan bahwa penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Lebih lanjut, Suriasumantri (2009: 42) mengatakan:
Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan, meskipun seperti dikatakan Pascal, hati pun mempunyai logika tersendiri. Meskipun demikian patut kita sadari bahwa tidak semua kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran. Jadi penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
 Sedangkan Copi (Shadiq, 2014: 25) menjelaskan istilah penalaran atau reasoning sebagai berikut, “Reasoning is a special kind of thinking in which inference takes place, in which conclusions are drawn from premises.” Lebih lanjut, Keraf (Shadiq, 2014: 42) menjelaskan istilah penalaran sebagai proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju kepada suatu kesimpulan. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa penalaran merupakan suatu proses berpikir untuk menarik suatu kesimpulan berupa pengetahuan baru dengan cara menghubung-hubungkan fakta berdasarkan pada beberapa pernyataan yang disebut premis. Istilah yang berkaitan dengan istilah penalaran adalah argumen. Giere (Shadiq, 2014: 25) mengatakan “An argument is a set of statements divided into two parts, the premises and the intended conclusion.” Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa pernyataan yang menjadi dasar penarikan kesimpulan inilah yang disebut dengan premis. Sedangkan hasilnya, suatu pernyataan baru yang merupakan kesimpulan disebut dengan konklusi (Shadiq, 2014: 25). Menurut Suriasumantri (2009: 46), agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Terdapat bermaam-macam cara penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan yang saksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan di pihak lain, kita mempunyai logika deduktif, yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang berisifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus). Ilmu yang mempelajari tentang penalaran atau penarikan kesimpulan disebut logika. Penalaran dapat dibedakan menjadi penalaran secara induktif dan penalaran secara deduktif.
B.     Penalaran Induktif
Dalam Suriasumantri (2009: 48), induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
Sementara itu, John Stuart Mill (Shadiq, 2014: 42) menyatakan bahwa induksi merupakan suatu kegiatan budi, dimana kita menyimpulkan bahwa apa yang kita ketahui benar untuk kasus-kasus khusus, juga akan benar untuk semua kasus yang serupa dengan yang tersebut tadi untuk hal-hal tertentu.
Giere (Shadiq, 2014: 43) menyatakan: “The general characteristic of inductive arguments is that they are knowledge expanding; that is, their conclusions contain more information than all they are premises combined.”
Berdasarkan pernyataan para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa penalaran induktif adalah suatu cara berpikir yang diawali dari hal-hal yang bersifat khusus untuk digeneralisasikan menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
Dalam Shadiq (2014: 43) disebutkan bahwa penarikan kesimpulan pada induksi yang akan bersifat umum (general) ini akan menjadi sangat penting, karena ilmu pengetahuan tidak akan pernah berkembang tanpa adanya penarikan kesimpulan ataupun pembuatan pernyataan baru yang bersifat umum. Hal inilah yang telah menjadi suatu kelebihan dari penalaran induktif (induksi) dibandingkan dengan penalaran deduktif (deduksi). Contoh dari kelebihan penalaran induktif ditunjukkan oleh ilmuwan terkenal dari Perancis, yaitu Galileo Galilei pada saat menemukan teori yang berkaitan dengan hubungan antara waktu ayun dan jarak ayun suatu bandul (Jacobs dalam Shadiq, 2014: 43).
Penarikan kesimpulan pada induksi yang akan bersifat umum (general) ini akan menjadi sangat penting, karena ilmu pengetahuan tidak akan pernah berkembang tanpa adanya penarikan kesimpulan ataupun pembuatan pernyataan baru yang bersifat umum. Hal inilah yang telah menjadi kelebihan dari penalaran induktif (induksi) dibandingkan dengan penalaran deduktif (deduksi).
Namun demikian, di samping kelebihan yang ia miliki, deduksi juga memiliki kelemahan yaitu suatu pernyataan yang bersifat umum (general) yang merupakan hasil dari proses induksi harus dibuktikan kebenarannya dengan cara pembuktian deduktif atau dengan menunjukkan kesalahannya melalui suatu contoh sangkalan (counter example).
C.       Penalaran Deduktif
Menurut Suriasumantri (2009: 48), penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalaran induktif. Deduksi adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Dari contoh sebelumnya kita dapat membuat silogismus sebagai berikut:
Semua makhluk mempunyai mata (premis mayor)
Si Polan adalah seorang makhluk (premis minor)
Jadi Si Polan mempunyai mata (kesimpulan)

Dengan demikian maka ketepatan penarikan kesimpulan tergantung dari tiga hal yakni kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan keabsahan pengambilan kesimpulan. Sekiranya salah satu dari ketiga unsur tersebut persyaratannya tidak dipenuhi maka kesimpulan yang ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif.
Jacobs (Shadiq, 2014: 63) menyatakan “Deductive reasoning is a method of drawing conclusions from the facts that we accept as true by using logic.” Artinya, penalaran deduktif adalah suatu cara penarikan kesimpulan dari pernyataan atau fakta-fakta yang dianggap benar dengan menggunakan logika. Suatu hal yang sudah jelas pun harus ditunjukkan atau dibuktikan kebenarannya dengan langkah-langkah yang benar secara deduktif.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa penalaran deduktif adalah dapat disimpulkan bahwa penalaran induktif adalah suatu cara berpikir yang diawali dari hal-hal yang bersifat umum untuk ditarik kesimpulan kepada hal yang bersifat khusus serta biasanya menggunakan silogismus.
Pada proses induksi atau penalaran induktif akan didapatkan suatu pernyataan baru yang bersifat umum (general) yang melebihi kasus-kasus khususnya (knowledge expanding), dan inilah yang diidentifikasi sebagai suatu kelebihan dari induksi dibandingkan dengan deduksi. Hal ini pulalah yang menjadi kelemahan deduksi.
Pada deduksi yang valid atau sahih, kesimpulan yang didapat diklaim tidak akan pernah salah jika premis-premisnya bernilai benar (truth preserving). Hal inilah yang diidentifikasi sebagai kelebihan dari deduksi jika dibandingkan dengan hasil pada proses induksi.
D.      Indikator Penalaran
Sumarmo (dalam Kusnadi) memberikan indikator kemampuan yang termasuk pada kemampuan penalaran matematika, yaitu:
-         Membuat analogi dan generalisasi
-         Memberikan penjelasan dengan menggunakan model
-         Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematika
-         Menyusun dan menguji konjektur
-         Memeriksa validitas argumen
-         Menyusun pembuktian langsung
-         Menyusun pembuktian tidak langsung
-         Memberikan contok penyangkal
-         Mengkuti aturan enferensi
Sedangkan menurut Asep Jihad (2013), indikator penalaran terdiri atas:
-         Menarik kesimpulan logis
-         Memberikan penjelasan dengan menggunakan model, fakta, sifat-sifat, dan hubungan.
-         Memperkirakan jawaban dan proses solusi
-         Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematika
-         Menyusun dan menguji konjektur
-         Merumuskan lawan contoh (counter examples)
-         Mengikuti aturan inferensi, memeriksa valisitas argument
-         Menyusun argumen yang valid
-         Menyusun pembuktian langsung, tidak langsung, dan menggunakan induksi matematika

DAFTAR RUJUKAN
proposalmatematika23.blogspot.co.id/2013/05/kemampuan-penalaran-matematika.html
Shadiq, F. (2014). Pembelajaran Matematika: Cara Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Suriasumantri, J.S. (2009). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.




Sebuah Prolog dari Zulfichar Kurniadi

Dulu Adi cuma cowo biasa-biasa aja yang item, kecil, dekil, ga ada yang suka merhatiin dan yang lebih parah 6 tahun megang rekor jomblo. Pernah suka ke cewe pas masa kuliah cuma ditolak mentah-mentah hmmm nasib…. Lulus kuliah fokus kerja dan tetep masih ga ada yang ngelirik dan pernah dibilang amat sangat ga masuk katagori mantu idaman. Jatuh bangun, suka duka, pait manis, semuanya dijalani sendiri. Ga ada yang pernah tau tentang Adi yang sebenernya dan ga ada temen yang bisa diajak berbagi tentang semua hal yang udah Adi alamin. Sempet ngerasa hidup ga adil, udah belajar mati-matian tapi cita-cita ga kesampean dan udah coba bersikap sebaik mungkin tetep ga dapet pacar. Masuk tahun 2014 dimana ada kabar bakal ada pembukaan CPNS. Karena niat pingin banggain orang tua sama pingin masuk katagori mantu idaman, mulai lagi belajar keras demi lolos CPNS. Sempet galau mau daftar kemana, antara Kota Bandung yang nerima 15 orang atau Pemprov Jabar yang nerima 1 orang untuk jurusan Adi. Tapi akhirnya adi diyakinkan sama Gusti Allah kalo Adi harus daftar ke Pemprov Jabar dengan tujuan adi yang terbaik pas tes. 11 November 2014, akhirnya instansi yang ditunggu-tunggu buka juga pendaftaran. Dengan semangat 45 dan gamau lagi dipandang sebelah mata, adi mantep daftar ke Pemprov Jabar. 8 Desember 2014, hari yang menentukan apakah adi layak atau engga lolos CPNS dengan ujian CAT. Semua keringet keluar saking tegangnya, semua hapalan dibaca ulang ampe kayanya tu bacaan udah bosen Adi baca bolak-balik. Tes udah dilalui nilaipun keluar dan jeng jeng…. Scorenya 364 dan jadi peringkat 2 di sesi itu. Sempet was-was bakal ga lolos karna liat di sesi lain nilainya jauh banyak yang lebih gede. Hari Jumat 30 Januari akhiiiiiiiirrrnya waktu yang ditunggu-tunggu dateng juga, pengumuman kelulusan CPNS dan puji syukur Alhamdulillah nama adi masuk jadi salah satu peserta yang lolos bareng sama 124 peserta lainnya. Haru seneng lemes pingin jingkrak-jingkrak ga bisa diem pokoknya campur aduk setelah tau lolos, akhirnya kerja juga udah ga fokus jadi mutusin untuk pulang. Nyampe rumah langsung nyari ibu dan langsung sujud nyium kaki ibu, dan ibu nangis waktu Adi sujud di kakinya. 2 Februari 2015, pengarahan peserta yang lolos di BKD sambil pemberkasan. Finally, datang ke BKD sebagai CPNS hahahaha. Ketemu banyak temen baru yang luar biasa seru banyak berbagi cerita selama persiapan, selama tes sama selama nunggu pengumuman. Semuanya kelihatan seneng ga ada yang manyun apalagi udah dikasih snack sama BKD-nya hehe. Akhirnya beres pengarahan ga lama ada grup whatsapp yang sebelumnya ada grup bbm dulu cuma karna daya tampungnya sedikit semua pindah ke whatsapp. Makin lama grup CPNS makin rame, makin gokil sama makin asik…. Endingnya kita mutusin untuk ngadain kopdar CPNS yang pertama. Dan dari Kopdar itu semua cerita sesungguhnya dimulai..